Rambutan
Oleh Ghinatera
SMP Plus Al-Ashri
Niswah, Ima, dan Zahra saling kejar-mengejar. Waktu istirahat setelah menghafal berjam-jam digunakan mereka untuk memasak dan bermain.
“Kalian! Come here, come here!” seru Pak Irwan dari kejauhan.
“Ada apa, nih, Nis, Zah? Jangan-jangan ... kita bakal dihukum, nih?” Takut-takut Ima menyenggol tubuh Niswah dan Zahra agar berjalan menuju Pak Irwan.
“Nashwa, tadi mau rambutan, kan?” Pak Irwan menunjuk Niswah dengan telunjuknya.
Niswah mendengus kesal. “Pak Irwan, bukan Nashwa, tapi Niswah. Beda lagi itu mah.” Niswah melipat tangannya.
“Oh ... i’m sorry, i’m sorry. Oke! Karena tadi Niswah sudah memberi Pak Irwan baksonya, ini rambutan untuk kalian.” Pak Irwan menyodorkan satu kantung penuh berisi rambutan.
Niswah dan kawan-kawan saling melirik, kemudian melompat-lompat girang.
“Harganya sepuluh ribu,” imbuh Pak Irwan diselingi suara aneh yang Niswah yakin betul itu adalah suara Pak Irwan yang berusaha menahan tawa.
“Begitulah Pak Irwan. Semengejutkan soal Math yang dikeluarkan. Nggak apa, deh. Yang penting bisa makan rambutan. Terima kasih, Pak”
Hari ini Niswah, Ima, Zahra, dan kawan-kawan yang lain sedang mengikuti Mukhayyam di Pattalassang. Nah, di halaman rumahnya itu penuuh ... sepenuh-penuhnya dengan ubi plus rambutan.
Niswah, Ima, dan Zahra duduk di tangga rumah panggung. Bersiap mengambil rambutan dari kantung.
“Eh, bagaimana kalau kita kupas rambutannya semua dulu. Baru setelah itu kita makan semuanya,” usul Zahra.
Semua rambutan dari kantung dikupas kulitnya. Kemudian disimpan di dalam kantung kembali.
“Waktunya dimakan! Yee ....”
“Hap!” Sebuah tangan tiba-tiba mengambil rambutan yang ingin dimakan Niswah.
“Aliya! Rambutanku!”
“Di mulutku. Eh, wueek! Hii ... banyak semutnya. Hiii ....” Aliya mengeluarkan kembali rambutan yang dimakannya lalu dibuang.
“Hihihi .... Siapa suruh makan tanpa izin,” ledek Zahra.
“Biarin. Kali ini pasti hoki. Nggak ada semutnya, deh,” kata Aliya sembari memperlihatkan daging rambutan tanpa semut.
“Hap! Wuaah ...! Kecut! Kecut!” Aliyah masuk ke dalam rumah mengambil air.
“Huh ... mungkin rambutannya nggak mau kalau dimakan tanpa izin kali, ya? Nis, minta satu, ya?” pinta Aliya sembari mengusap air bekas minum di atas mulutnya.
“Hehehe ... oke!”
Komentar
Posting Komentar