Pahlawanku


PAHLAWANKU


Suara alarm handphone yang berbunyi nyaring membangunkanku, refleks kulihat jam di dinding. “Astaga…. sudah jam setengan tujuh pagi”, ucapku. Kuraih handuk, lalu bergegas ke kamar mandi. Tak sampai 15 menit. “ Wuiih…nyaris saja…! “ ucapku. Tadi, selesai shalat Shubuh, niatku Cuma rebahan… “Eh,… malah kebablasan”.
            Mama lagi sibuk menyiapkan sarapan di meja makan. “Ahaa…ada roti bakar” ucapku, kuambil satu lalu kukunyah dengan lahap. “Pelan-pelan makannya”, ucap mama sambil menyodorkan segelas susu. “Terima kasih mama”, ucapku. Sekali teguk susu cokelat kesukaanku langsung habis. “ Assalamu alaikum, Adi berangkat dulu ma,,”sambil kucium tangan mama.” Kenapa tergesa-gesa”, balas mama. “ Adi ada mid test mama, udah telat nih”, jawabku. “ Hati-hati sayang” ucap mama dengan wajah tersenyum.
            Traffic light masih merah, kuedarkan pandanganku di sekeliling jembatan fly over ini. “ Astaga… jam segini udah macet”, batinku. Tiba-tiba kulihat sosok kakek tua dengan wajah yang rusak, dia berdiri termangu di bawah jembatan dengan gerobak kerupuk jualannya. Segerombolan anak SD yang sedang melintas di sampingnya, terlihat mengolok-ngolok kakek itu. Hatiku terenyuh melihatnya, traffic light berubah hijau. Sambil memacu motorku masih terbayang wajah kakek tua itu.
            Alhamdulillah … akhirnya sampai di kampus, sambil melihat jam di tanganku 07.30 pagi. Rupanya teman-teman sudah di kursinya masing masing, sambil menunggu dosen Fisikanya datang.
            “Hai Adi…bagaimana persiapannya “, sapa Ipul temanku. “Mudah-mudahan lancar, tadi malam aku belajar sampai jam dua belas malam”, balasku. “ Wah… mantap kalau begitu” ucap Ipul sambil tertawa lebar.
            Tak terasa waktu bergulir, sudah setengah sebelas. Akhirnya mid test Fisikanya selesai juga, benar-benar menguras otak. Aku bergegas ke kantin, perut sudah keroncongan minta diisi. “ Mas, bakso pakai mie ya ?” teriakku ke Mas Joko , pemilik warung bakso langgananku. “ Tumben, jam sebelas udah ke kantin “ , sapa Mas Joko. “ Iya nih, abis mid test otak di peras perut jadi cepat lapar” gurauku ke Mas Joko.
            “Alhamdulillah kenyang…” , ucapku sambil memegang perut. “ Sekarang aku mau mengumpulkan tugas praktikum ke asisten dosen, lalu pulang ke rumah, siap-siap untuk mid test besok”, gumamku.
            Siang yang terik… membuat jaket dan helm yang kukenakan seakan tidak mampu menghalau panas matahari yang menyengat ini. Apalagi berhenti di traffic light dekat jembatan fly over ini, bunyi kendaraan yang menderu dan bau asapnya benar-benar melengkapi semua keadaan ini. Mataku tertumpu pada gerobak hijau dengan beberapa anak remaja mengelilinginya. “Oh… kakek itu lagi”, batinku. Dia tampak melayani remaja itu yang sedang membeli kerupuknya. Tapi… tampak seorang anak berlari dengan kantong plastik di tangannnya . Kakek itu terlihat berteriak dan berusaha mengejar anak itu. Sayangnya kakek itu tidak mampu mengejarnya. Sementara anak remaja yang lain, malah tertawa-tawa melihat kejadian itu. Kejadian tadi, terus membayangiku diperjalanan sampai di rumah. “ Besok. Selesai mid test bahasa Inggris, aku akan menghampiri kakek itu”, niatku.
            Teriakan Mas Joko yang memanggilku, kubalas hanya dengan melambaikan tangan. Aku tergesa-gesa, ingin menemui kakek yang ada di bawah jembatan fly over itu. “ Semoga dia ada disana”, batinku.
            Sengaja kuparkir motorku dekat trotoar yang ada di bawah jembatan. Selain aman, juga bisa terlindung dari panas matahari. Kubuka helm, lalu kugantungkan di kaca spion. Mataku mencari sosok kakek itu. “Dimana dia? “, ucapku. Kususuri tempat biasa dia berjualan, tapi tidak ada. “Apa dia sudah pulang?”, ucapku cemas. Aku menoleh ke arah kiri, ke tiang jembatan, tampak gerobak berwarna hijau terparkir. Sambil berjalan ke arah sana, otakku mulai berfikir, kata-kata apa yang harus kuucapkan pertama kali. Gerobak hijau itu kuitari. “ Oh… rupanya disini kakek itu”, ucapku. Tampak dia sedang bersandar di tembok tiang jembatan. Sambil tangannya mengibas-ngibaskan topi yang terlihat kumal.
            “Assalamu alaikum kek”, ucapku perlahan sambil menyodorkan tanganku untuk bersalaman. Kakek itu tampak terkejut, diulurkannya tangannya dengan ragu-ragu. “Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatu”, balasnya.
“Perkenalkan kek, nama saya Adi, saya sering melihat kakek di bawah jembatan fly over ini”, ucapku dengan senyuman.
            Tatapan mata kakek itu penuh keraguan, tidak sepatah kata keluar dari mulutnya.
“Jangan takut kek”, sambungku berusaha meyakinkan. Saya hanya mahasiswa biasa yang sering lewat di jembatan fly over ini, kebetulan saya sering melihat kakek berjualan” , ucapku memberi penjelasan. Raut muka kakek itu mulai melunak, malah dengan sunggingan senyum di bibirnya.” Oh… saya kira nak Adi ini wartawan atau dari instansi tertentu”, ucapnya. “ Kenapa nak Adi, tertarik ingin mengenal saya” tanya kakek itu. “ Setiap hari kalau ke kampus saya lewat di dekat jembatan fly over ini” , lanjutku.  “Beberapa kali saya melihat kakek berjualan kerupuk tetapi sepertinya orang-orang yang membeli  dagangan kakek tidak menghargai kakek, malah menertawakan dan mengolok-ngolok kakek. Hati saya terenyuh melihatnya”, uraiku.
“ Sungguh mulia hatimu nak Adi, belum ada yang begitu perhatian seperti itu” sahut kakek itu. “ Biasanya memang orang-orang hanya memandang rendah kakek” ucapnya sambil menghela nafas.
            “ Nama kakek adalah Handoko, saya lahir tahun1951, berarti sudah enam puluh empat tahun kehadiranku di muka bumi ini”, ujarnya. “ Mungkin.. umur ayah nak Adi belum setua itu…” sambungnya. “ He.. he… he..iya kek, papa masih 45 tahun umurnya” ucapku sambil tertawa. “ Tapi ngomong-ngomong kakek dulu kerjanya apa?” tanyaku menyelidik.  Kakek terdiam.. matanya menerawang dan berkaca-kaca. “Maaf ..kek, mungkin pertanyaannku menyinggung perasaan kakek dan membuat kakek sedih”, ucapku segera. “ Tidak apa-apa, nak….!”, balasnya. “ Asal nak Adi mau mendengarkan cerita masa lalu kakek. “ Wah… dengan senang hati saya akan mendengarkan, kek”, ucapku bersemangat.
            “waktu itu kakek tamat dari SMA, kakek bingung mau melanjutkan kuliah atau bekerja, karena kedua orang tua sudah meninggal, jadi hanya paman yang bisa membantu.  Akhirnya kakek ikut paman yang tinggal di surabaya, paman yang membuka usaha toko kain, terlihat terlihat kerepotan menguusi tokonya, belum lagi jika pagawai tokonya ada yang tidak masuk kerja, akhirnya saya memutuskan untuk membantu paman sebagai tukang antar barang pesanan pelanggan.  Kakek bekerja dengan tekun, impian untuk melanjutkan kuliah telah terkubur.
            Pada suatu hari anak tetangga paman membawa semacam selebaran berisi ajakan untuk masuk menjadi anggota TNI, lulusan SMA bisa mendaftar,ucapnya  
Tapi kutepis impian itu, tiba-tiba , kakek dipanggil paman. “ tadi saya lihat husain membawakan selebaran untuk menjadi anggota TNI, ucapnya.  Kenapa kau tidak coba saja, kalau dilihat dari ostur tubuh mu yang tegap dan bagus, kau memang cocok untuk menjadi seorang tentara.”
Kakek kaget mendengarnya…tapi…ucap kakek ragu.  “besok, kau pergi mendaftar, muda-mudahan kau berhasil”ucap paman.
            Mungkin sudah rezeki dan takdir Allah SWT, akhirnya kakek bisa menjadi seorang tentara, karena kedisiplinan,kecakapan dan keberanian kakek, kakek sering di utus ke daerah-daerah konflik sebagai pasukan penjaga perdamaian.  Sungguh, tugas sebagai tentara sangatlah beresiko.  Tapi demi membela bangsa dan negara, kita harus berdiri digaris paling depan.
            Nak adi, lihat wajah kakek yang rusak ini, ucap kakek, sambil mengelus pipinya.  Kejadian ketika kakek ditugaskan didaerah irian barat.  Terjadi pertempuran sengit dengan para pemberontak, bahkan kakek dan teman-teman kakek, harus bergerilya di hutan-hutan, selama berhari-hari.  Waktu markas pemberontak berhasil ditemukan, kami mengepung markas tersebut. Rupanya pemberontak tidak tinggal diam, disekeliling markas itu telah di tancapkan ranjau darat, kakek yang bergerak sebagai pasukan penyerbu, berusaha menghindari, tetai salah satu ranjau tersebut meledak dan serpihannya mengenai wajah kakek, di wajah ini.  Setelah sembuh, wajah kakek terlihat hancur dan mengerikan seperti ini.  Kemudian kakek pensiun sebagai tentara, kakek lalu pulang kampung.  Sebabagai penambah biaya hidup untuk anak istri, kakek berjualan kerupuk ini. Tetapi seperti nak adi lihat , orang-orang seperti tidak menghargai, apa… karena kakek ini cacat?. Ucapnya sedih.
“kakek, jangan berkecil hati , ucapku, yang penting apa yang kakek lakukan ini halal, dari meminta-minta, orang sehat saja meminta-minta, harusnya mereka malu.  Lagi pula kakek adalah seorang pahlawan, bagi bangsa Indonesia.”
“Jangan melihat seseorang dari fisik, dan seberapa banyak penghargaan yang diterima, tetapi seberapa tulus pengabdian dan pengorbanan untuk orang lain”







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Membuat Video Perpisahan

Rambutan